Minggu, 12 April 2020

MENGURAI LAGI JEJAK KEHIDUPAN

MENGURA LAGI JEJAK KEHIDUPAN

Salam kreatif dulur-dulur............!!!!!!!
Menapak jejak pahit getirnya kehidupan dan mencatat galau gelisahnya peradaban.

Merunut dan mengurai lagi jejak kehidupan dalam https://jejakkustawaesye.blogspot.com/ yang telah dua tahun aku abaikan, karena berbagai hal. Klasik dan banyak yang menganggap alasan kurang kreatif memang, tapi itulah realitanya. Sebenarnya, memang ada beberapa 'biang keladi' yang memaksa mengabaikan wahana serta media menorehkan karya cipta yang sejujurnya dan sebenarnya sangat berarti dalam hidupku ini.

Beberapa diantaranya, karena kesibukan urusan rutinitas pekerjaan yang mengharuskan penuh waktu dijalani. Setelah kontrak kerja penuh waktu usai, pun berlanjut konsentrasi penuh lagi merampungkan penulisan beberapa buku yang jauh sebelumnya telah terencana, membuka lagi diklat menulis fiksi dan nonfiksi, secara tatap muka maupun online. Dan, belakangan ini mendirikan badan penerbitan bersama mitra kerja maupun mitra usaha yang sebenarnya telah lama terjalin.

Berkait konsentrasi kembali menulis buku yang beberapa diantaranya sudah sampai beberapa bab, bahkan ada juga yang sudah setengah jadi namun terabaikan karena sempat menggantungkan pena, syukur Alhamdulillah, hingga curhatan ini ditulis di https://jejakkustawaesye.blogspot.com/  sudah tiga buku terselesaikan. Ketiganya tinggal menunggu proses permohonan dan turunnya ISBN dari Perpusnas RI. Beberapa sedulur jauh yang masih sering berkomunikasi, sejak beberapa bulan lau telah menanyakan, buku apa saja yang telah diselesaikan, selebihnya ada yang menanyakan juga termasuk karya fiksi dan atau nonfiksi?

Mohon maaf dulur-dulur, tetap masih Saya rahasikan. Tunggu kabar berikutnya, Insya Allah tidak lama lagi terbit dan segera hadir dihadapan dulur-dulur. Walau demikian, Saya tetap  memohon. Jangan lupa jok klalen, suport spirit dan doa dari dulur-dulur tetap senantiasa didambaharapkan. Dimaksud agar  Saya terus dan tetap dapat berkarya, juga sesering mungkin menjumpai seluruh sohib di berbagai media, termasuk diantaranya di https://jejakkustawaesye.blogspot.com/ ini.



Salam Rahayu Sedayanak


Kustawa Esye

Rabu, 29 Maret 2017

RINDU PARUH HATI


.........................................
sebagaimana taqdirnya
satu demi satu
rekah kelopak bunga
kan berguguran
di terpa dingin
spoi sepinya dini hari
sebagaimana kodratnya
benih-benih butiran kasih
dendam rindu yang jatuh
pasti kan tumbuh lagi
dibuai gerimis musim semi
dalam paruh luruh hati mu
|.| cakkoes kustawaesye |.| edisi; rindu |.| 260217 |.|

Sabtu, 25 Maret 2017

FILOSOFI CAPING

‘ELING PEPELING’ FILOSOFI CAPING 

Ki Panji Koeswening

Ketua Komunitas Kiai Damar Sesuluh
(Spirit Religious, Cultural & Education)

CAPING penutup kepala berbentuk kerucut, dalam filosofi jiwa jawine wong Jawa bukan sekedar produk industri rumahan. Handycraf  dari anyaman bambu yang dipakai petani bekerja di sawah atau di ladang ini, merupakan produk budaya yang menjadi bagian penting dalam dimensi kehidupan manusia. 

Wujud fisik caping yang menyerupai gunung, melambangkan sumber kehidupan semua mahkluk maupun beragam tumbuhan. Selain sebagai gentong sumber mata air, gunung juga merupakan lumbung aneka bahan makanan. Masyarakat Jawa, memaknai gunung sebagai pelindung keberlangsungan hidup dan kehidupan  yang harus dijaga kelestariannya.

Lebih dari itu, dikupas lebih dalam lagi caping sebenarnya memiliki tiga lapisan. Dua lapisan yang di tengah berbahan bilahan bambu tebal, lebar dan kaku. Fungsinya sebagai warongko atau tulangan, agar caping kuat dan kukuh bakuh
Makna filosofinya, isyarat kehidupan umat manusia yang harus memiliki keyakinan atau keimanan teguh dan kuat, terhadap Sang Maha Pencipta. Sebagai seruan, agar keimanan dan ketqwaan kita tidak mudah tergoyahkan beragam godaan maupun nafsu duniawi, yang melunturkan spirit religius penghambaan kita kepada Allah SWT.
  
Bagian atas caping yang tidak tampak dari luar, terbuat dari bambu yang ruasnya panjang berbilah kecil, nampak halus dan rapi. Mengisyaratkan agar kita senantiasa menunjukkan kehalusan budi pekerti kepada siapa saja. Kehalusan yang utuh, tanpa ruas atau sekat yang membeda-bedakan antar golongan, suku maupun keturunan.  

Caping bagian bawah, terbuat dari bilah bambu lebih lebar dari bagian atasnya. Selain itu, juga terdapat anyaman melingkar untuk menempatkan kepala pemakainya. Dimaksud sebagai seruan agar apa yang nampak di luar atau dimensi lahiriyah kita,  juga sama dengan dimensi batiniyah dalam diri kita.

Anyaman melingkar pada bagian dalam caping, hanya diikat dengan bagian dalam dan warongko, sehingga tidak akan nampak dari luar. Mengisyaratkan agar kita senantiasa berusaha mengikat nafsu duniawiyah, termasuk diantaranya mengendalikan aura spiritual negatif dalam diri kita.

Keseluruhan warongko atau kerangka caping, dibungkus dan diikat dengan anyaman bambu halus. Sebagai simbolis seluruh dimensi kehidupan manusia haruslah dipaduharukan dengan kehalusan fikir dan kelembutan dzikir secara utuh dan menyeluruh, tidak boleh terbelah dan terputus-putus.

Caping yang bentuknya melingkar kemudian mengerucut, merupakan filosofi perjalanan spiritual religius manusia, menuju titik perjalan hidup tertinggi, sangkan paraning dumadi. Sebagamana kodrat jatidirinya, perjalanan hidup manusia akhirnya pasti akan mengerucut kembali kepada Sang Pencipta. 

Bagian bawah caping yang bundar, dimaknai juga sebagai pralampita cakra manggilingan kehidupan di dunia atau alam fana. Bagian atasnya yang berbentuk kerucut, tak lain sebagai tujuan menggapai  puncak kehidupan ke alam kelanggengan atau keabadian, dalam tasauf Islam disebut alam baqa.

Caping, adalah pepeling bagi seluruh umat manusia.  Agar hati nuraninya senantiasa eling lan waspada dalam menselaraskan harmonisasi habluminallah dan habluminannas. Sebagaimana diisyaratkan dalam spirit religius Islam, agar kita senantiasa memberi pencerahan kepeda seluruh umat sekalian alam, sebagai manifestasi spirit religius  rahmatan lil  ‘alamin.  []

*) Ki Panji Koeswening; 
    Nama Pena Kustawa Esye
    dikutip dari Majalah Aspiratif Edisi 13/ Th. III/ 2017

Selasa, 21 Februari 2017

JIWA JAWINING WANITA

Jiwa Jawining Wanita 

Oleh Ki Panji Koeswening 
Ketua Komunitas Kiai Damar Sesuluh 
[Spirit Religious, Cultural & Education]

MENURUT filosofi falsafah jiwane wong Jawi, keutamaan kaum Hawa  setidaknya ada lima. Sebagaimana ajaran para winasis warisan leluhur kita yang tertulis dalam pupuh tembang Sinom berikut ini; 

“Wanita kang pinilala// Jangkepe gangsal prekawis// Sepisan beciking rupa// Kapindho sucining ati// Katelu pinter wanasis// Kaping papat unggah-ungguh// Ping lima momong putra// Lan bekti mring gurulaki// Pratela yen wanita ingkang utama”/// 

Terjemahan bebasnya, “Wanita yang teramat istimewa// Lengkap lima perkara// Pertama kebersihan/ keindahan rupa// Kedua kesucian hati// Ketiga  pintar dan cerdas// Keempat sopan santun// Dan berbakti kepada suami// Itulah wanita yang utama”/// 

Perihal keutamaan wanita, sebenarnya juga tersurat dan tersirat dalam Serat Suluk Tembang Raras, karya pujangga Keraton Surakarta Hadiningrat yang dipesan khusus oleh Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakoe Boewana V. Dalam serat suluk yang  dipublikasikan tahun 1809 tadi diuraikan, jatidhiri perempuan terutama yang telah menjalani palakrama juga ada lima hal pokok, masing-masing diibaratkan lima jari tangan kita. 

Pertama, kaum Hawa yang telah terikat tali pernikahan seharusnya nglengganani lan nglenggahi kalungguhane (menyadari keberadaan dan kedudukannya) sebagaimana ibu jari atau jari jempol. Maksudnya, secara lahiriyah maupun batiniyah jiwa raganya diabdikan kepada gurulaki atau pria pendamping hidupnya. 

Kedua, jatidiri jiwa jawining wanita utama itu diibartkan jari telunjuk. Artinya, perempuan yang telah mengarungi samudra kehidupan berumah tangga, seharusnya selalu setiya tuhu  lan mbangun miturut kepada pria yang telah menjadi pendamping hidupnya. 

Walau dikatakan ‘hukumnya wajib’, sebenarnya asas demokrasi dan pranatan budaya emansipasi perempuan bangsa kita, tetap memberikan hak dan kewenangan kepada kaum wanita untuk bisa milah lan milih. Maksudnya, ibu rumah tangga haruslah tetap selektif dan berani meyakinkan kepada suaminya, apakah perintah yang harus dijalani tadi berdampak pada kebaikan, atau justru berakibat mensengsarakan keluwarganya.

Selanjutnya yang ketiga, perempuan yang telah berkeluarga harus juga menyadari jatidirinya sebagaimana jari panunggul, disebut juga jari tengah yang keberadaannya di tengah-tengah telapak tangan. Makna filosofinya, seorang istri haruslah senantiasa ngalembana dan mengistimewakan suaminya. 

Dalam ajaran jiwa jawining wong Jawi diibaratkan kendati bagaikan dengkul diiket-iketi pria iku tetep malati, sejelek apa pun raut wajah (termasuk juga sosok tubuh) seorang suami, haruslah tetap dihormati. Ajaran leluhur kita ini, sebenarnya juga sebagaimana ajaran agama Islam yang mendudukkan kaum pria sebagi pemimpin atau imam dalam keluarga. 

Keempat, perempuan itu diibaratkan jari manis. Dalam menjalani hak dan kuwajibannya sebagai ibu rumah tangga, wanita haruslah senantiasa bertingkah laku, solahbawa, polatan lan muna-muni kang manis. Singkatnya, dalam menjalani kuwajiban luhurnya sebagai ibu rumah tangga, harusnya senantiasa berusaha menyengkan hati suami maupun putra-putrinya.   

Kelima atau yang terakhir, dalam kehidupan berumah tangga wanita seharusnya juga dapat memahami dan menyadari kedudukannya sebagai jenthik atau jari kelingking. Makna filosofinya, ibu rumah tangga dituntut dapat menerapkan enam huruf huruf [ i ] dalam mahligai biduk rumah tangganya. Selain gemi, nastiti, ngati-ati lan pinter leladi sebaikknya juga pinter ngalembana lelaki.  

Lebih istimewa lagi jikalau sang istri juga pinter mijeti suami, maksudnya dapat meluruhkan hati pasangan hidupnya yang tengah emosi, menghibur pasangan hidupnya yang tengah resah gelisah, juga selalu memberi suport dan spirit. Lebih utama lagi, istri semestinya dapat meluruskan jalan hidup suami yang menyimpang dari ajaran/ perintah agama, melengseng dari kaidah hukum, norma susila dan norma sosial kemasyarakatan. []   
Ki Panji Koeswening; nama pena Kustawa Esye
Dikutip dari Majalah Aspiratip Edisi 05/ II/2015 

Jumat, 10 Februari 2017

KOPI KEHIDUPAN

Filosofi Kehidupan dalam Secangkir Kopi


KI PANJI KOESWENING 

Ketua Komunitas Kiai Damar Sesuluh(Spirit Religius, Cultur & Education)


KOPI, semua orang pasti pernah menikmati seduhan kopi. Minum kopi yang dituangkan dalam cangkir, bahkan telah menjelma sebagai budaya masyarakat  di berbagai penjuru dunia.

Bagi para penikmat dan atau pandemen kopi, nyruput  minuman khas ini tidak sekedar memadukan bubuk biji kopi   dengan air panas dan ditaburi gula. Untuk menjadikan minuman kopi yang benar-benar becita rasa atau sering disebut jitu alias cespleng harus dengan takaran bahan baku yang benar-benar akurat dan pas. 

Itulah sebabnya, sebagian kalangan menyebutkan jikalau    akurasi tri atunggal (bubuk kopi, gula dan air panas) yang menjadikan nikmatnya minuman kopi, merupakan sains atawa ilmu pengetahuan yang tidak dapat diajarkan secara teoritis. 

Jas merah, jangan melupakan sejarah. Mulai masuknya kopi ke bumi Nusantara hingga saat ini, penikmat dan atau pandemen seduhan kopi dapat menemukan cerita panjang. 

Baik terkait kesedihan dan kesengsaraan para petani kopi di masa penjajahan Belanda, hingga masa keemasan bangsa Indonesia sebagai negara penghasil kopi paling nyamleng dan cespleng  se  dunia. 

Sejarah mencatat, dalam kurun waktu tahun 1700-an  benua Eropa begitu terpesona dengan kenikmatan kopi arabika dari tanah Jawa, diperkenalkan oleh Belanda lewat perusahaan dagangnya VOC.  Saking populernya, hingga muncullah istilah a cup of  Java (secangkir Jawa) untuk menyebut secangkir kopi dari tanah Jawa. 

Tidak aneh, masyarakat Jawa yang sejak jaman nenek moyang kita memang telah dikenal sangat kreatif dalam berolah kata atau ngothak-athik tembung, menjadikan seduhan kopi sebagai  pitutur luhur filosofi  falsafah kehidupan adiluhung. 

Kopi, dalam dimensi spirit spiritual jiwa jawining wong Jawa dimaknai sebagai kopyoring pikir atau owah gingsire (ketidakstabilan) pemikiran manusia. Itulah sebabnya, kopi itu serasa pahit sebagaimana pahit getirnya kehidupan manusia. 

Meski demikian, sak pahit-pahite kopi isih bisa digawe legi dimaknai legawaning ati (kelegaan hati/ berlapang dada). Caranya, dengan ditaburi gula jarwa dasa dari gulangane   rasa  (mengelola perasaan baik/ tidak berburuk sangka). 

Gula berbahan baku tebu, diartikan mantebe kalbu (kebulatan dan kemantapan hati). Sebagai tempat atau wadahnya, kopi bubuk dan gula tadi ditempatkan dalam cangkir, dalam bahasa Jawa kata cangkir kependekan dari nyancang pikir (mengikat dan atau mengencangkan pemikiran). 

Langkah selanjutnya, adalah dikocori wedang (air panas) dimaknai wejangan kang marahi padang atine (ajaran moralitas dan religius yang mencerahkan atau menentramkan hati). Ada juga yang memaknai wedang itu ngawe-awe kadang, mengajak sanak saudara  golek  pepadanging aurip  atau  mencari pencerahan hidup.

Jangan lupa, untuk tercipta kenikmatan cita rasa dan aroma seduhan kopi yang benar-benar khas, harus diaduk bahasa Jawanya diudheg makna katanya ngupaya lan ngrekadaya ora mandek (berupaya sekuat tenaga dan terus menerus).

Mengaduknya  dengan sendhok dimaknai sendhekno marang Kang Maha Kuwasa (diserahkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa). Jangan langsung diminum, untuk dapat menikmati cita rasa dan aroma kopinya, ditunggu sampai rada adem, atau digawe lerem atine (ditentramkan hati nuraninya) barulah diminum dengan cara disruput, dengan harapan luput sedaya sengkala sukerta, goda rubeda (terhindar semua aura spiritual negatif) dan atau seluruh godaan yang kasat mata maupun tidak kasat mata).  []

* Ki Panji Koeswening; Nama Pena Kustawa Esye, tulisan ini pernah dimuat  pada  Majalah Aspiratif Edisi 12/ Th. II/ 2016 



Rabu, 21 Desember 2016

TUK KAUM IBU DI HARI IBU

'GEMI NASTITI NGATI-ATI'

Ki Panji Koeswening
Ketua Komunitas Kiai Damar Sesuluh
(Spirit Religious, Cultural & Education)

PITUTUR Gemi, Nastiti lan Ngati-ati yang diwariskan para leluhur kita dari generasi ke generasi, lebih sering diberikan kepada para perempuan. Bisa jadi, sejak jaman bahulak nenek moyang kita memang telah memahami dan menyadari betapa pentingnya peran kaum  ibu, dalam perahu mahligai rumah tangga.

Ibarat dalam satu ‘kesatuan komando’, filosofi adiluhung Gemi, Nastiti lan Ngati-ati mendudukkan ibu rumah tangga pada jabatan yang sangat penting dan strategis, sebagai ‘kepala staf’. Itulah sebabnya, wulangreh adiluhung ini semestinya senantiasa dibundeli dan digondeli kaum Hawa, sebagai ‘pusaka warisan leluhur’ yang tidak lapuk dimakan usia dan lekang ditelan jaman.

Pitutur Gemi, Nastiti lan Ngati-ati, sebenarnya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Gemi terkait bagaimana menyimpannya, Nastiti tidak terlepaskan dari bagaimana nanjakke atawa membelanjakan, dan masih diperkuat lagi Ngati-ati. Inilah telu-teluning atunggal, dalam kata Gemi mengandung unsur Nastiti dan dalam Nastiti terdapat unsur Ngati-ati.

Secara harfiah, Gemi berarti hemat. Sebagaimana kodrat jatidirinya, perempuan terlebih setelah kawengku pria dan bersetatus sebagai ibu rumah tangga, semestinya menerapka pola hidup hemat atawa tidak boros. Selain selalu bersyukur atas nafkah yang diberikan suaminya, seberapa pun besarannya juga harus mempergunakannya secara hemat.

Aplikasinya, perempuan memang semestinya tetap dan selalu dapat memilah memilih dan membedakan antara kebutuhan dengan keinginan. Untuk memenuhi keinginan-keinginan yang bukan kebutuhan rutinitas, selalu minta persetujuan kepada suaminya terlebih dulu, apakah benar-benar harus dibeli atau masih dapat ditunda di kemudian hari.

Orang tua kita dahulu mengajarkan pola hidup Gemi dengan kearifan lokal, nyelengi atawa menabung. Celengannya pun beraneka ragam jenis dan bentuknya, dari yang sangat sederhana berupa buluh bambu dilubang seukuran duit krincing (uang recehan/ koin), ada juga celengan gerabah beraneka rupa bentuknya. Celengannya hanya diperbolehkan dibuka atawa dipecah jikalau sudah penuh uangnya, itu pun khusus diperuntukkan memenuhi kebutuhan di luar dugaan.

Dalam kehidupan berumahtangga, prinsip hidup ini dilakukan dengan menyisihkan uang yang diterima untuk disimpan/ ditabung. Salah satu siasatnya, menghindari pembelanjaan yang belum dibutuhkan, dimaksud agar pengeluaran tidak berlebih-lebihan, bahkan melesat jauh diluar dugaan. Itulah perlunya berpola hidup prasaja dan sak madya, agar balewisma tidak gegedhen empyak kurang cagak.

Syarat untuk menggapainya, diperlukan Nastiti yang berarti cermat. Sebagai ‘kepala staf’ dalam ‘kesatuan komando’ rumah tangga, isteri dituntut cermat dan teliti dalam menyusun hingga menentukan prioritas pengeluaran. Lebih dari itu, sedapat mungkin juga memiliki siasat dan strategi khusus menyisihkannya, untuk ditabung dan atau disimpan dalam bentuk aneka perhiasan.

Prinsipnya, Nastiti adalah kecermatan pengelolaan anggaran. Kepiawaian pendamping setia suami dalam mengatur pos-pos pengeluaran, disesuaikan dan atau diselaraskan pemasukan yang dikelola, dengan memperhitungkan hal-hal tidak terduga yang sewaktu-waktu dapat terjadi.

Itu pun masih juga belum cukup, karena masih ada satu prinsip lagi. Ngati-ati yang secara harfiah berarti hati-hati, dimaksud dalam mengelola keuangan rumah tangga haruslah berhati-hati, agar nafkah yang berasal dari cucuran keringat suami tercinta dapat mencukupi pememenuhan kebutuhan keluarga.


Jikalau diniati dan dilakoni sepenuh hati dan dibarengi keiklasan, sebenarnya prinsip dan pola hidup Ngati-ati juga bukan perhitungan ndakik-ndakik dan terlalu njlimet yang justru akhirnya merugi, sebagaimana paribasan cincing-cincing tetep klebus. []

*] Ki Panji Koeswening nama pena Kustawa Esye
   Tulisan ini pernah dimuat dalam Majalah Aspiratif edisi 08/ Th. II/ 2016




Rabu, 14 Desember 2016

DIAN SANG PENCERAH

 [] reportase kustawa esye/ foto-foto dok. sahabat kapas dan kustawa esye

DIAN SASMITA; PEMBUKA TABIR GELAP 
MASA DEPAN ANAK-ANAK TERPIDANA


DIAN, SAPAAN AKRAPNYA. TAHUN 2009 TERJUN TOTAL MENDAMPINGI ANAK-ANAK TERPIDANA,  MENGABDIKIAN DIRI UNTUK  MENUMBUHKEMBANGKAN SPIRIT HIDUP DAN MEMBUKA TABIR GELAP  MASA DEPAN ANAK-ANAK PENGHUNI TIRALI BESI. 

TERBIUS ‘candu’ senyum ceria dan demi masa depan anak-anak yang terjerat kasus pidana, serta terpaksa menjalani hidup di penjara, Dian Sasmita memilih mengundurkan diri rutinitas pekerjaan kesehariannya, dan menanggalkan titian karir profesinya yang kian memuncak.

Semenjak tahun 2007,  alumni Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta tahun 2004 ini, tercatat telah lulus sertifikasi sebagai pengacara. Dan, sejak tahun 2007 itu juga dia bekerja di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yayasan Atma (Solo), dengan lebih memfokuskan pendampingan dan memberikan bantuan hukum kepada perempuan maupun anak-anak yang terjerat berbagai kasus hukum pidana.

Selama menekuni karirnya sebagai pengacara, perempuan kelahiran Ambarawa, Salatiga, 35 tahun lalu ini sering mendampingi anak-anak yang bersentuhan dengan beragam kasus hukum, hingga sering bolak-balik ke lembaga pemasyarakatan (Lapas) yang disebut-sebut penjara atawa Rumah Tahanan (Rutan) bagi masyarakat awam.

Dari interaksi langsungnya dengan anak-anak yang tersandung masalah hukum, kemudian terpaksa menjalani hidup di balik jeruji besi itulah, Dian Sasmita menemukan data angka dan fakta, sebagian besar anak-anak yang menghuni penjara, pernah menjadi korban kekerasan pada masa kecilnya.

“Selain dari orangtua dan atau anggota keluarga mereka sendiri, ada juga anak yang menjadi korban penelantaran dan perundungan atau bullying,” jelas aktifis perlindungan hak anak yang sejak tahun 2000 menetap di Solo tadi.

Terspirit naluri keibuannya, untuk menolong anak-anak yang dirundung kemalangan tadi agar tidak lebih terpuruk, sebagaimana pepatah ‘Sudah jatuh masih tertimpa tangga juga’, tahun 2009 Dian Sasmita memutuskan lebih total mendampingi anak-anak terpidana.

Perempuan yang akrap disapa Dian ini, sepenuh hati mengabdikan dirinya untuk mendengarkan, ngobrol, menemani, memberi semangat, dan berusaha membuka lagi pintu masa depan anak-anak yang menghuni jeruji besi. Bersama sejumlah rekan-rekannya yang memiliki kepedulian serupa, dia mendirikan Sahabat Kapas.

Dengan komunitas inilah, istri Kartika Bagus Cahyono tadi lebih konsentrasi dan rutinitas mendampingi anak-anak penghuni Rumah Tahanan. Diceritakan juga, waktu itu ada 12 anak penghuni Lapas Kelas I Solo yang didampingi komunitasnya.

Menurut Dian, penyebab perilaku negatif anak-anak sebenarnya sangat kompleks dan melibatkan orang-orang di sekitarnya maupun lingkungan tempat tinggalnya. Namun demikian yang terjadi justru sebaliknya, masyarakat melabeli mereka dengan stigma anak bermasalah selamanya.

“Akibatnya, tak ada yang peduli pada nasib dan masa depan mereka. Sebagian masyarakat, bahkan menolak mereka ketika bebas dari penjara. Dengan begitu, masa depan mereka pun pupus. Anak-anak malang itu harus ditolong dan dientaskan dari keterpurukan yang dideritanya,” pesan dia penuh harap.
Bagi Dian Sasmita,  senyum anak-anak di penjara adalah magnet yang senantiasa memberi spirit dan motifasi untuk berbagi kepedulian maupun  perhatian. Tiada pernah memilih dan memilah apapun kasusnya yang menjerat dan memaksa mereka menjalani hukuman penjara, tetap saja anak-anak yang butuh pendampingan dan perhatian.

Perkembangan selanjutnya, Sahabat Kapas yang dibidani dan dikomandani Dian Sasmita, kini telah dimotori tak kurang 14 relawan, 11 di antaranya mahasiswa. Termasuk salah satunya, Kartika Bagus Cahyono, suaminya yang berprofesi sebagai jurnalis salah sebuah stasiun televisi nasional.

“Magnet terbesar yang melahirkan Sahabat Kapas, adalah senyum anak-anak di dalam penjara. Seusai bertemu mereka, serasa ada ‘candu’ yang membuat kami merindukan untuk segera bertemu dan berinteraksi lagi,” cerita Dian Sasmita penuh semangat.

Dikatakan juga,  Sahabat Kapas kini mendampingi 127 anak-anak yang tersebar di tiga Rumah Tahanan di Soloraya (Eks. Karisidenan Surakarta) Lapas Klaten, Rutan Solo, Rutan Wonogiri, dan LPKA Kutoarjo, Purworejo, Jawa Tengah.

Aktivitas pendampingannya selain didukung Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana Jawa Tengah serta Kementerian Hukum, juga   HAM. Terhitung sejak tahun 2015, Sahabat Kapas menjalin kerja sama dengan UNICEF dan Global Fund for Children.

Dian yang lebih suka disebut sebagai ibu rumah tangga katimbang sejumlah aktifitasnya lainnya, kepada Cempaka mengaku tiada pernah kesulitan membagi waktu untuk urusan rumah tangga dengan aktifitas sosial kemanusiannya di Sahabat Kapas.

“Setelah menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, seperti belanja kebutuhan keluarga dan memasak, barulah beralih peran mengurus kegiatan komunitas Sahabat Kapas,” jelas dia. Secara kebetulan kantor maupun ‘markas’ tempat berkumpulnya belasan relawan Sahabat Kapas  juga  di rumahnya, Jln. Jambu II/36, Tohudan, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar.
Secara rutin dan terjadwal, Dian bersama sejumlah relawan lainnya mengunjungi Rutan, Lapas maupun Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) di Soloraya bahkan di daerah lainnya, untuk menemui anak-anak yang sedang tersandung masalah hukum.

Karena seringnya berkunjung, bagi perempuan yang pernah meraih penghargaan dari bebeberapa institusi (diantaranya Sarinah Award dari PDI-P tahun 2014 dan Kartini Award dari Solo Paragon di tahun yang sama) ini,  Rumah Tahanan sudah dianggapnya seperti rumah kedua.

Aktifitas lainnya, di luar status utamanya sebagai ibu rumah tangga yang hobi mencoba resep makanan, dan penggiat hak anak khususnya anak-anak kondisi khusus dan rentan, lebih spesial lagi  anak di dalam Rumah Tahanan, perempuan yang suka traveling ini juga mengisi hari liburnya dengan gowes sepeda lipat kesayangannya. [] kustawa esye

Dimuat di Tabloid Cempaka (Suara Merdeka Network)
Edisi; 31/ XXVII/ 12 - 18 Nopember 2016
www.tabloidcempaka.com


Senin, 12 Desember 2016

JEJAK KUSTAWA ESYE: MULTIDIMENSI KETAULADANAN RADEN MAS SAID

JEJAK KUSTAWA ESYE: MULTIDIMENSI KETAULADANAN RADEN MAS SAID: TUJUH MAKOM RELIGIUOS SANG MAESTRO SENI BUDAYA     OLEH KI PANJI KOESWENING   Ketua Komunitas Kiai Damar Sesuluh  (Spirit...

MULTIDIMENSI KETAULADANAN RADEN MAS SAID

TUJUH MAKOM RELIGIUOS
SANG MAESTRO SENI BUDAYA 
 


OLEH KI PANJI KOESWENING 
Ketua Komunitas Kiai Damar Sesuluh 
(Spirit Religious, Cultural & Education)

MENELADANI Raden Mas Said tidak hanya dari heroismenya sebagai pejuang kemerdekaan, politisi ulang, negarawan dan figurnya raja yang berbudi bawa laksana. Raden Mas Said,  sebenarnya juga maestro seni budaya yang piawai mengejowantahkan filosofi falsafah religious dalam karya-karya fenomentalnya.  
Dalam berolah seni gamelan dan gending-gending Jawa, contohnya. Raja Pura Mangkunegara I ini selain dikenal sebagai apresiator, juga berhasil merefleksikan esensi dan filosofi falsafah seni gamelan maupun gending-gending  Jawa. 
Esensi filosofi falsafah gending, menurutnya dapat dirasa dari tiga perspektif kehidupan. Pertama; Raos Kawiraman yang merefleksikan cita rasa runtut, titi, patut, pratitis, tatag, lan mantep. Kedua; Raos Kasulistyan yang merefleksikan cita rasa edi, peni, resik, endah, alus, luhur, lan bening. Dan Ketiga; Raos Kasusilan yang merefleksikan cita rasa suci, lebet, santosa, jejer, prabawa, mandiri, budi pekerti, lan gesang bebrayan
Berdasarkan filosofi penguasaan gending di atas, hakikatnya filosofi falsafah tersebut mengarah kepada pembentukan moralitas dan kepribadian (character building). Inilah karakteristik seorang pimpinan yang komitmen  menjaga keseimbangan refleksi religious, kemiliteran dan moralitas. 
Tidak aneh jikalau Raden Mas Said sangat menonjol dalam mengembangkan kesenian, dibandingkan Raja-raja lainnya yang bertahta di Tanah Jawa. Bukan saja aktivitas yang dilakukan  dan dijiwainya, sekian banyaknya karya seni yang diciptakan, adalah manifestasi Raden Mas Said sebagai seorang empu atau maestro seni budaya. 
Seperti membuat perangkat gamelan, menciptakan aneka tarian tradisional, penulisan buku sastra, penulisan Al Quran (tercatat hingga delapan kali), penulisan Juz Amma dengan huruf Arab dan Jawa, serta membuat aneka macam tulisan kaligrafi Arab dan huruf Jawa.  
Karya seni berupa gamelan yang dihasilkan dan dikoleksi antara lain gamelan Kyai Udan Riris, Kyai Udan Arum, Kyai Kanyut, Kyai Mesem, Gong Kyai Anggun Anggun, Kyai Pamedharsih (kodok ngorek), Monggong Pakurmatan, Kyai Segarawindu, Kyai Lipur Tambahoneng, dan Kyai Galaganjur (bendhe perang). 
Sedangkan karya seni ciptaan Pangeran Samber Nyawa yang hingga kini menjadi master piece Pura Mangkunegaran diantaranya; Bedhaya Mataram-Senopaten Anglirmendung, (formasinya tujuh penari wanita, pesinden, dan penabuh wanita) yang menjadi monumen perjuangan Perang Kesatrian di Ponorogo. 
Ada lagi Bedhaya Mataram-Senopaten Diradameta (Gajah Mengamuk dengan formasi tujuh penari pria, pesinden, dan penabuh pria), sebagai monumen perjuangan perang di Hutan Sitakepyak. Dan Bedhaya Mataram-Senopaten Sukapratama (Kebahagiaan utama dengan formasi tujuh penari pria, pesinden, dan penabuh pria) monumen Perjuangan Perang Bedah Benteng Kompeni Yogyakarta. 
Dalam berbagai aktivitas kesenian yang dilakukan Raden Mas Said, konsep-konsep ajaran agama Islam juga sangat mempengaruhinya. Setidaknya, sebagaimana dalam penciptaan ketiga tarian tadi. Filosofi falsafah angka tujuh, dalam formasi penarinya merupakan perspektif ajaran tasawuf Islam. Diyakini, inilah pengejawantahan religious Raden Mas Said.  
Menurut ajaran tasawuf Islam, untuk menuju kesempurnaan iman manusia, harus melalui tujuh maqom (tempat pemberhentian atau tataran pendakian spirit spiritual), dalam setiap pemberhentiannya manusia akan mengalami perubahan menuju dimensi kesempurnaan religious yang lebih tinggi. 
Adapun tujuh proses pemberhentian tadi masing-masing, Pertama; Attaubatu Allaumu, bersesal dari hati selanjutnya diikuti tobat kepada Allah. Kedua; Mujahadah Nafs, pantang berteriak, menahan hawa nafsu, dan setiap perbuatan selalu didasarkan hukum halal dan haram. 
Ketiga; Muamalah wa Khalifah Fil Ardl, berusaha menjaga dan menambah keindahan alam (memayu hayuning bawana), memupuk rasa sosial dalam arti luas dan wajar. Keempat; Qonaah wa Zuhud, kepasrahan, yaitu hidup bersahaja dan sederhana mencegah kemewahan. Kelima; Shobar wa Tahamul, sabar dan tahan menderita dalam menghadapi segala cobaan. 
Keenam; Istiqomah wa thoah, setia, teguh, tekun dan taat (percaya dan taat sepenuhnya kepada kekuasaan Allah). Dan ketujuh; Syukur wa Ridho,  sejahtera dan puas, dalam arti bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah, tidak mengharapkan berlebihan, menerima secara penuh dan sadar apa yang sudah digariskan Allah atau semeleh  lan nrimo ing pandum. [] 



*) Ki Panji Koeswening; 
    Nama Pena Kustawa Esye
   Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Aspiratif
   

Kamis, 22 Oktober 2015

SPIRIT SPIRITUAL SURA

SPIRIT SPIRITUAL SURA


Kustawa Esye
Ketua Komunitas Kiai Damar Sesuluh
(Spirit Religious, Cultural & Education)
BULAN Sura menurut tuntunan spirit spiritual kejawen, dimaknai sebagai bulan laku spiritual keprihatinan. Banyak juga yang menganggap bulan Sura saatnya introspeksi atau mawas diri dan waktunya kontemplasi, membersihkan katarak jiwa serta mensucikan noktah hitam dalam hati.
Karena keyakinan itulah, masyarakat yang masih berpegang teguh syariat filosofi falsafah luhur jiwa jawine wong Jawa, selain merasa dan menganggap tidak pantas, juga tidak tepat menggelar pesta bersuka cita (semisal hajatan pernikahan, khitanan, dan lainnya) selama bulan Sura.
Laku spiritual selama satu bulan, di awal tahun menurut perhitungan penanggalan tahun Jawa ini, selain merancang dan menata kepribadian dimaksud juga untuk mengendalikan hawa nafsu. Dengan bertumpu kekuatan serta kesadaran spiritual, diyakini laku spiritual tadi dapat menyingkirkan sengkala maupun sukerta manusia, sukses menggapai harapan serta cita-cita luhurnya.
Bulan Sura, menurut  tradhisi yang hingga sekarang masih diyakini sebagian besar orang Jawa, diyakini juga sebagai bulan keramat dan sakral. Warga masyarakat yang memiliki talenta sensitivitas spiritual alam tan kasat mata  (sering disebut juga memiliki indra ke enam), dianggap sebagai bulan paling istimewa dibandingkan sebelas bulan lainnya.
Sura yang dalam bahasa Jawa Kawi berarti ‘dewa’, dan dalam kamus Bahasa Jawa gagrag anyar berarti ‘wani’ (berani), diprecaya juga sebagai momentum paling tepat untuk ngesuh budi dan ngeningke cipata rasa karsa. Selebihnya, disebut juga sebagai wahana paling jitu untuk memohon berkah karomah anugerah Gusti Kang Maha Welas lan Maha Asih.
Dalam tradisi Jawa yang bertepatan bulan Muharom, menurut perhitungan penanggalan tahun Hijriyah, bulan Sura dianggap juga sebagai saat yang tepat untuk mejalani kuwajiban luhur, juga  lelaku ritual spiritual.
Membersihkan badan wadak atau raga, disimbulkan dengan tradhisi ritual njamasi beragam barang aji (keris, tombak, cundrik dang lainnya) sering juga disebut pusaka, membersihkan tempat peribadatan kepada Sang Kholiq, dan membersihkan makam ahli waris yang mendahului meninggal dunia.  
Sedangkan untuk mensucikan jiwa, dijalani dengan berbagai macam ritual. Diantaranya dengan beragam laku prihatin puasa  (puasa ngebleng, puasa mutih, puasa ngrowot, puasa ngrowot, dan lainnya), kungkum atau merendam diri pada tempuran sungai, tapa mbisu dan lainnya.
Makna falsafah filosofi bulan Sura dalam mitologi mitos mistis kejawen inilah yang mengilhami Sultan Agung Hanyakra Kusuma. Sebagaimana tercatat dalam sejarah, tanggal 08 Juli 1633 Masehi Raja Mataram dinasti Islam pertama tadi, menyatukan perhitungan penanggalan Jawa Kuna dengan pananggalan Islam, tahun Hijriyah.
Akulturasi perhitungan penanggalan tahun Jawa Kuna yang berdasarkan perputaran matahari (syamsiyah), diganti dengan perhitungan penanggalan berdasarkan perputaran rembulan (komariah). Karena penanggalan ciptaan Sultan Agung Hanyakra Kusuma itulah, jatuhnya tanggal 1 Sura selalu bertepatan dengan hari pasaran pada tanggal 1 Muharam.
Karya cipta Raja Mataram dinasti Islam pertama ini, disebut-sebut sebagai akulturasi yang sangat bijak. Pasalnya, selain berdasarkan keyakinan agama Islam, juga berlandaskan saripatinya spirit spiritual jiwa jawine wong Jawa. Inilah pralambang manunggaling bebrayan agung, sekaligus sebagai bukti nyata golong-gilige toleransi antarumat beragama.
Jikalau didedah lebih dalam lagi, sejak jaman dulu antara kebudayaan Jawa dengan tuntunan agama Islam, memang bukan sebagai entitas yang memancing debat kusir, terlebih menyulut dan atau menyebabkan perpecahan warga masyarakat.

Pandangan Islam kejawen yang lebih mengutamakan isi katimbang kulit luarnya, memang lebih selaras dengan cita rasa maupun ciri khasnya budaya dan filosofi falsafah kehidupan wong  Jawa di tengah  kemajemukan masyarakat. Inilah yang semestinya dijadikan spirit spiritual, introspseksi, dan kontemplasi setiap datangnya bulan Sura. []

Senin, 31 Agustus 2015

TUMPENG KAMARDIKAN

TUMPENG KAMARDIKAN

Oleh Ki Panji Koeswening
Ketua Komunitas Kiai Damar Sesuluh
Spirit Religious, Cultural & Education

NASI Tumpeng, kuliner asli Indonesia warisan budaya bangsa nan adiluhung, hingga  kini tetap ada dan dilestarikan generasi bangsa. Dalam acara-acara tertentu, Nasi Tumpeng beserta uba rampene juga masih tersaji. Semisal pada peringatan ulang tahun, peresmian suatu proyek, launching badan usaha waralaba, tasyakuran maupun acara istimewa lainnya.
Termasuk diantaranya, dalam setiap memperingati hari kemerdekaan atawa hari ulang tahun republik Indonesia. Selain ritual memotong tumpeng, lomba Nasi Tumpeng juga menjadi tradisi  dalam setiap menyemarakkan ambal warsa kemerdekaan. Baik dalam suatu komunitas sosial, institusi suwasta demikian juga dalam semua tingkatan struktural lembaga pemerintahan.
Sangat disayangkan, semakin banyaknya generasi bangsa yang tidak memahami tata cara penyajian, manfaat kegunaan dan atau makna filosofi Nasi Tumpeng, menjadikan kuliner khas yang berasal dari Jawa ini,  seakan tidak lebih hanya  sebagai ‘pelengkap’ dalam suatu rangkaian acara.
Dalam filosofi filsafah jiwa jawaning wong Jawi, Nasi Tumpeng disebut-sebut sebagai ajaran hakekat kehidupan dari nenek moyang bangsa yang diekspresikan melalui penyajian makanan. Ajaran  adi luhung ini tidak disampaikan melalui bahasa lisan maupun tulisan, lebih merupakan ilmu kasunyatan  ‘bahasa rupa’ yang padat dan sarat makna.
Baik pernak-pernik puluhan jenis bahan bakunya, ubarampe peralatan memasaknya, ketentuan penyajiannya hingga ritual pemotongan dan pembagiannya. Itulah sebabnya, jikalau salah satu bahan baku Nasi Tumpeng tidak terpenuhi, demikian juga urut-urutan rangkaian dan tahapannya terlewatkan, dianggap menghilangkan mata rantai wejangan filosofi maupun hakikat kehidupan tadi.
Pralambang yang diajarkan melalui peralatan memasak, contohnya. Paling tidak, terdapat enam unsur utama dalam jagad makrokosmos. Api melambangkan cahaya matahari, pawon atau tungku (dari batu bata merah)  simbul bumi, dandang perlambang gunung, air sebagai sumber kehidupan, kukusan  (kerucut) kawah gunung berapi, kayu bakar unsure tumbuhan atau hutan, dan nasi yang dimasak sebagai simbul kemakmuran.
Selain bahan bakunya yang berupa nasi putih, sebagai perlambang segala sesuatu yang kita makan haruslah bersumber dari yang bersih (halal) menurut pranatan tradisi Nasi Tumpeng juga dilengkapi beragam  lauk pauk berupa ingkung (ayam jago dimasak utuh), telur rebus, ikan air tawar. Ikan asin dan berbagai sayuran dibumbui urab-uraban atau gudangan.
Warisan budaya adi luhung yang sarat filosofi falsafah kehidupan ini, dihidangkan dalam nyiru atau tampah (berbentuk bundar terbuat dari anyaman bambu). Pinggirannya  dihias daun pisang manggala berbentuk segi-tiga, dirangkai dengan lidi kawung sebagai perlambang sinar matahari. Manggala berarti penyampai hukum atau yang menguasai aturan, sedangkan kawung dari kata Sang Suwung yang berarti Yang Hyang Maha Kuasa.
Nasi Tumpeng berbentuk kerucut menyerupai kemuncak gunung atau top of mountain, sebagai simbul prosesi ritual penghambaan manusia kepada Sang Khaliq untuk menggapai kemuliaan dan kesempurnaan hidup. Walau wujudnya kerucut, sesungguhnya penyajian Nasi Tumpeng terbagi menjadi tiga tangga atau tingkatan yang mencerminkan dimensi kehidupan manusia.
Paling bawah yang dihiasi beragam sayuran dengan bumbu urab-uraban dan anekarupa lauk pauk lainnya, sebagai lambang kemajemukan alam kehidupan manusia, dalam jagad cilik (mikrokosmos) maupun jagad gedhe (makrokosmos). Sedangkan tangga kedua, pada bagian tengah Nasi Tumpeng  merupakan prasarat menenging piker manungsa lan meneping dzikir mring Gusti Allah  menuju kesempurnaan hidup maupun kehidupannya. 
Sedangkan tangga yang ketiga,  pun­caknya kerucut Nasi Tumpeng sebagai isarat penggapaian menuju kebahagiaan yang hakiki, dalam berbagai wejangan makrifat kejawen sering disebut juga tangga paling tinggi untuk menggapai ngilmu sangkan paraning dumadi. Karena itulah, pada pucuk atau puncak Nasi Tumpeng ditancapkan cabe merah tegak lurus ke atas, tak lain sebagai pepeling agar manusia senantiasa ingat mring Allah Kang Maha Tunggal. []


Ki Panji Koeswening : Kustawa Esye dalam komunitas Kiai Damar Sesuluh
Tulisan ini pernah dipublikasikan pada Majalah Aspiratif

Minggu, 23 Agustus 2015

FALSAFAH FILOSOFI PACUL

FALSAFAH FILOSOFI PACUL

Ki Panji Koeswening
Ketua Komunitas Kiai Damar Sesuluh
[Spiri Religious, Cultural & Education)

‘NGELMU iku lelaku’. Demikian wejangan Kanjeng Sunan Kalijaga kepada Ki Ageng Selo, dalam memaknai falsafah filosofi Pacul. Menuntut ilmu, lanjut Wali Allah di tanah Jawa tadi, tak cukup berbekal fasih membaca wacana yang tersurat dan memaknai gatra secara harfiah.
Untuk memetik jatining ngilmu, harus juga lantip memaknai segala sesuatu yang tersirat. Dalam bahasa agama disebutkan ayat qauliyah, berupa ayat-ayat atau firman Allah yang tersurat dalam kitab-Nya, Al-quran. Dan ayat Kauniah,  ayat-ayat yang tersirat dalam seluruh ciptaan Allah. Baik alam semesta beserta keseluruhan isinya, maupun gejolak dan gejala alam semesta.
Kepada cantrik atau santri kalong-nya, Ki Ageng Selo yang konon mampu menangkap petir, Kanjeng Sunan Kalijaga menyebutkan, agar lantip membaca thek kliwer  dan obah mosiking jagad, baik jagad cilik (mikrokosmos) maupun jagad gedhe (makrokosmos), setidaknya membutuhkan tiga bekal utama. 
“Pertama, kecerdasan pikir. Kedua, kerendahan serta kearifan mata batin. Dan ketiga, kejernihan maupun kekhusukan dzikir”,  jelas penebar agama Islam dengan pendekatan budaya dan kearifan lokal kejawen tadi. Tiga  prinsip kehidupan yang bermura pada piwulang   spirit spiritual religius itulah yang mendasarinya memberikan nama dan memaknai segala sesuatu. 
Termasuk salah satu diantaranya, Pacul. Senjata pengolah tanah pertanian yang sering disebut juga cangkul ini, oleh Kanjeng Sunan Kalijaga dijadikan media pembelajaran falsafah filosofis religius untuk menggapai kesempurnaan hidup manusia, baik kehidupan dalam mikrokosmos maupun makrokosmos.
Pacul yang dianggap sebagian besar masyarakat sepele dan nylekethe, oleh Sang Guru Sejati di Tanah Jawi tadi lebih dimaknai sebagai sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dengan sendi-sendi kehidupan maupun peradaban bangsa. Selebihnya, selain menjadi simbol perjuangan hidup, cangkul juga merupakan kunci utama pembuka pintu rejeki masyarakat agraris.
Pacul, menurutnya terdiri tiga bagian. Pertama atau yang utama disebut Pacul, bagian inti terbuat dari lempengan logam,  ada juga yang menyebut Langkir, karena bagian paling tajam masyarakat Jawa menyebutnya Landhep. Unsur kedua disebut Bawak, lingkaran gelung berlubang tempat kayu pegangan atau doran disematkan. Dan ketiga disebut Doran, batang kayu yang berfungsi sebagai pegangan cangkul.
Ketiga bagian  tadi, tidak dapat berdiri sendiri. Untuk dapat difungsikan, ketiganya harus bersatu padu. Itulah sebabnya, dalam wejangan  spirit spiritual kejawen   Kanjeng Sunan Kalijaga, disebut Tri Tunggal  atau satu kesatuan dari tiga unsur yang tidak dapat diceraiberaikan.
Unsur pertama Pacul, dimaknai Ngipatake barang kang mbedungul arti secara harfiahnya membuang bagian yang menonjol atau yang tidak rata. Maksudnya, untuk menggapai kesempurnaan hidup  haruslah senantiasa berusaha menata dan memperbaiki kehidupannya. Diantaranya, dengan mengekang nafsu dan menyingkirkan sifat-sifat yang tidak terpuji. Baik berlebihan ego, tingginya amarah, keangkaramurkaan dan kesewenang-wenangan. Untuk dapat menggapainya, dibutuhkan kekuatan iman dan lantiping pikir.
Unsur kedua Bawak, diartikan Obahing awak atau olah gerak tubuh. Maksudnya, agar kehidupan ini lebih hidup,  manusia berkuwajiban berikhtiar hingga batas kemampuannya. Baik untuk menggapai cita-cita kehidupannya, demikian juga dalam  meraih pemenuhan kebutuhan hidup (lahiriyah maupun batiniah) keluarganya.

Unsur ketiga Doran, Dongo mring Pengeran  ada juga yang memaknai Ojo Adoh Mring Pengeran.  Dalam spirit spiritual kejawen, kata Pangeran sama halnya dengan Gusti Kang Dingengeri atau  Allah tempatnya mengabdi dan berbakti. Ojo adoh marang pangeran, berarti ‘Jangan menjauhkan diri dari Gusti Allah’.  Maksudnya, manusia juga berkuwajiban berikhtiar secara spiritual, dengan memanjatkan doa secara khusuk kepada Gusti Allah Kang Maha Welas lan Maha Asih, bukan kepada yang lain. []

*] Ki Panji Koeswening : Kustawa Esye
    Tulisan ini pernah dipublikasikan dalam majalah Aspiratif edisi Perdana


Selasa, 11 November 2014

Puisi yang Tersembunyi [1]

CERIWIS GERIMIS

gerimis kian ceriwis
kala rinduku mendesis
resah basah di teritis
pilu hati serasa teriris
[cakkoes_0.07@24.12.13]


TERUNTUK [I] DI KOTA [A]

elegi
secawan anggur
kebimbangan

masa lalu-mu

sungguh memabukkan
denyut nadi
separuh jiwa-ku
[cakkoes@selasadinihari_11.o6.13]


JELANG DINI HARI

dini hari menjelang
kau datang
di tengah lubuk gersang
mengulang
menabur segenggam bimbang
[dinihari@15.09.11]

Jumat, 07 November 2014

Petung Neptu Wuku Jokowi

TELUR NAGA EMAS JOKOWI
 Tabloid Cempaka [Suara Merdeka Network] Edisi : 32 []  XXV [] 1 - 7 N0vember 2014

Konsultasi Pawukon Diasuh Ki Panji Koeswening 
JOKOWI atau Joko Widodo, semua orang mengenal dan mengetahui tokoh fenomenal sekelas Presiden Amerika Obama ini. Namun demikian, tak lebih yang kita ketahui hanya sosok foramalnya. Andaikan kacang, hanya kulit  luarnya saja.  Karena itulah, kami memohon Ki Panji Koeswening menguraikan karakteristik Jokowi, menurut perhitungan pawukonnya.
Kresna Lisytiono – 0852 9393 xxxx

Menurut spirit jiwa jawaning wong Jawi,   kepribadian dan atau karakteristik dasar seseorang dapat ditelaah dari  perhitungan neptu hari pasaran kelahirannya. Jokowi lahir  21 Juni 1961 menurut penanggalan tahun Masehi, bertepatan tanggal 7 Sura 1893 menurut petung pananggalan tahun Jawa,  neptu hari pasarannya Rabu Pon.
Petung neptu hari pasarannya Rabu (7) dan Pon (7)  jumlahnya 14 dilambangkan Lebu Katiup Angin, bermakna kebaikan yang diberikan mudah terlupakan.  Sedangkan petung Pancasuda-nya 12, cinandra Satria Wirang berarti jalan hidupnya sering mendapatkan finah.
Itulah sebabnya, dibalik kesuksesan Jokowi selalu dibayang-bayangi kabar miring, perihal kepribadian dan jatidirinya. Sejak dicalonkan Wali Kota Solo, hingga pemilihan Gubernur DKI, Jokowi tak lepas dirundung fitnah dari empat penjuru mata angin. Terlebih selama pencalonan presiden, hingga ditetapkan calon  presiden terpilih, dan pelantikannya sebagai pucuk pimpinan negeri, fitnah yang ditujukan kepada dia maupun keluarganya, silih berganti tiada henti.
Walau demikian, dibalik aura spiritual negatif itu, sebenarnya juga ada sisi positifnya. Perhitungan paarasan  weton Jokowi yang berjumlah 14, juga dilambangkan Lakuning Rembulan,  sepanjang hidupnya akan selalu disenangi dan disegani banyak orang.
Tak aneh, mantan pengusaha mebeler ini, baik dalam dua kali pemilihan Wali Kota Solo dan Gubernur DKI,  meraih dukungan dan simpati tertinggi. Demikian juga dalam Pilpres 2014, Jokowi terbukti meraih suara lebih banyak katimbang lawan politiknya.  
Selain itu, Lakune Rembulan juga mengisaratkan sebagai orang yang penuh keberuntungan, karena setiap tindakannya dirancang dan direncanakan secara cermat serta penuh hati-hati. Jokowi juga ditaqdirkan sebagai pekerja keras, tidak mudah putus asa, terbuka menerima kritik orang lain, dan sangat memikirkan nasib wong cilik.  
Perihal kimitmennya terhadap rakyat yang memberikan amanah kepadanya, dia juga sangat klop dengan perhitungan Pranato Mongso  kelahirannya. Candra Mangsa Sadha  yang disandang Jokowi, Tirta Sah Saka Sasana  arti secara harfiahnya air lenyap dari tempatnya.  
Kehidupannya sangat dipengaruhi Batari Sri dan Batara Sadana, keduanya dewa dan dewi pembagi rejeki kepada umat manusia. Selain dikaruniai kecerdasaan dan kuat fellingnya,  juga pandai bergaul dan dapat menempatkan diri dengan tata krama serta penampilan  yang mengesankan.
Angka kelahiran  Jokowi masuk hitungan wuku  kesepuluh, nama wuku-nya Sungsang, candra wuku-nya ‘kesaput ing mendhung’, ingin selalu beramal baik, dan rela berkorban. Selebihnya Jokowi juga diselimuti aura spiritual ‘telur naga emas’, jikalau telah menetas dan pecah, aura anak naga emasnya tak dapat dibendung,  akan menebar ke seluruh penjuru dunia.
     Telur naga emas Jokowi menetas di pencalonannya Wali Kota Solo, itulah sebabnya  dia terpilih hingga dua periode, belum habis masa jabatannya di Kota Bengawan, Jokowi sukses melenggang ke Ibu Kota terpilih sebagai Gubernur DKI. Dan, di tahun 2014 ini karir politik dan kepemimpinannya melonjak drastis, terpilih sebagai Presiden RI tahun 2014 – 2019. [*]